5/29/2025

Kirab Budaya, Ruwatan, dan Wayang Kulit dalam Rangka Menyambut Hari Jadi Kota Surabaya ke-732



Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar rangkaian acara budaya yang kaya makna dan penuh khidmat, Pada Rabu malam, 28 Mei 2025. Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-732, bertempat di pelataran Tugu Pahlawan menjadi saksi kemeriahan Kirab Budaya, prosesi Ruwat Sekertaning Bumi, serta Pagelaran Wayang Kulit Empat Dalang yang menghadirkan nuansa Jawa kental dan suasana sakral yang mendalam.

Acara dimulai dengan Kirab Budaya yang melibatkan puluhan seniman, budayawan, dan komunitas budaya yang datang dari berbagai penjuru Surabaya. Mereka membawa berbagai simbol budaya dan gunungan tumpeng yang menjadi lambang kesejahteraan serta harapan bagi masa depan Kota Surabaya. Kirab ini tidak hanya sekedar parade, melainkan sebuah ritual kolektif yang menghubungkan masyarakat dengan akar budaya dan sejarah kota yang penuh semangat perjuangan.

Suasana semakin hidup dan meriah dengan kehadiran pertunjukan Reog khas Jawa Timur yang turut menyambut pengunjung yang malam itu turut hadir di dekat pintu masuk Tugu Pahlawan. Atraksi seni tradisional ini tidak hanya jadi ajang hiburan bagi masyarakat, tetapi juga simbol dari kekayaan budaya lokal yang terus dilestarikan. Dentuman musik karawitan yang mengalun lembut dan suara gamelan yang berpadu, membangkitkan nuansa etnik khas Jawa yang begitu kental di malam hari itu. Tak hanya itu, semerbak aroma kemenyan turut tercium dari setiap sudut area membuat area sekitar Tugu Pahlawan semakin magis dan sakral.

Puncak dari rangkaian acara di malam ini adalah prosesi Ruwat Sekertaning Bumi, sebuah ritual adat Jawa yang diwariskan secara turun - temurun sebagai bentuk permohonan keselamatan dan keharmonisan semesta. Tujuan dari prosesi ini adalah untuk membersihkan dan melindungi kota dari segala bentuk marabahaya dan energi negatif yang diyakini dapat mengganggu keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat. Prosesi ini menggunakan bahasa Jawa sebagai media komunikasi spiritual, yang semakin memperkuat nuansa tradisional Jawa dan autentik acara. Melalui prosesi ini, masyarakat yang turut hadir diajak untuk kembali merenungi keterhubungan manusia dengan tanah dimana mereka berpijak, dan pentingnya menjaga harmoni antara sesama makhluk hidup dan lingkungan.

Dalam prosesi ini, pembacaan doa bersama menjadi momen sakral yang mengajak seluruh peserta dan warga untuk bersatu dalam harapan dan doa demi keselamatan serta kemakmuran Surabaya. Selanjutnya Purak tumpeng, yaitu pembagian tumpeng sebagai simbol rasa syukur dan menandai rasa kebersamaan atas berkah yang telah diberikan kepada kota.

Musik campursari yang mengiringi prosesi menambah kehangatan dan kekhidmatan suasana. Alunan musik yang merupakan perpaduan gamelan tradisional dengan instrumen modern ini menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, sekaligus menghidupkan semangat budaya Jawa yang kuat di tengah masyarakat urban Surabaya.

Setelah prosesi ruwatan, warga dan pengunjung disuguhi pagelaran wayang kulit yang unik dan istimewa. Empat dalang, yang sebagian besar adalah anak-anak kecil, tampil bergantian menghidupkan cerita pewayangan yang sarat dengan nilai moral dan filosofi kehidupan. Kehadiran dalang cilik ini menunjukkan regenerasi dan pelestarian budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Surabaya.

Pagelaran wayang kulit ini bukan hanya sekedar hiburan, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya yang menghubungkan generasi muda dengan warisan leluhur. Suara gamelan yang mengiringi setiap adegan, ditambah dengan dialog dalam bahasa Jawa yang fasih, membuat suasana semakin hidup dan membawa penonton masuk ke dalam dunia pewayangan yang penuh makna.

Seluruh rangkaian acara dari awal sampai akhir terasa sangat sakral dan khidmat, dengan vibes Jawa yang masih sangat kental. Bau kemenyan yang menyebar terbawa angin malam, bunyi gamelan yang merdu, serta penggunaan bahasa Jawa di seluruh prosesi dan pagelaran, menciptakan atmosfer yang tidak hanya meriah tetapi juga penuh penghormatan terhadap tradisi dan leluhur.

Kehadiran komunitas seni tradisional dan anak-anak yang menjadi dalang dan pemain karawitan menunjukkan betapa budaya Jawa masih hidup, berkembang, dan dilestarikan  di tengah masyarakat modern Surabaya. Ini menjadi bukti nyata bahwa Kota Pahlawan tidak hanya maju secara fisik dan ekonomi, tetapi juga kaya akan nilai-nilai budaya yang terus dijaga dan diwariskan.

Kirab Budaya, Ruwatan Sekertaning Bumi, dan Pagelaran Wayang Kulit Empat Dalang di pelataran Tugu Pahlawan pada malam 28 Mei 2025 menjadi momen penting dalam perayaan Hari Jadi Kota Surabaya ke-732. Acara ini tidak hanya memperingati sejarah dan perjuangan kota, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya Jawa yang kaya makna.

Melalui ritual yang khidmat, musik yang merdu, dan pagelaran seni yang memukau, warga Surabaya diajak untuk bersama-sama merenungkan makna kebersamaan, doa, dan harapan demi masa depan kota yang lebih sejahtera dan bermartabat. Tradisi ini menjadi pondasi kuat yang menguatkan identitas budaya Surabaya sebagai Kota Pahlawan yang penuh semangat dan kebanggaan.


Editor dan Penulis: Citra Permata dan Felisia Lauren

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini

Mahasiswa ITS dan UNAIR Unjuk Gigi di IIMS Surabaya 2025 Lewat Kendaraan Ramah Lingkungan

IIMS Surabaya 2025(East Walkerz/Callula Veda) Surabaya, East Walkerz - Surabaya kembali menjadi saksi geliat anak muda dalam memajukan tekno...

Populer Post